Tuesday, October 6, 2009

Malaysia "Menggelitik" Kita Lagi
Belum selesai urusan klaim tentang Lagu rasa sayange serta Tari Pendet yang diakui sebagai budaya Malaysia dalam sebuah mini video pariwisata, lagi-lagi Indonesia "kecolongan".
Bukan menyoal budaya kali ini, namun justru tentang hal yang cukup membuat geleng kepala, yakni soal makanan. Media massa banyak mengabarkan bahwa persoalan baru yang digarap Malaysia merupakan bentuk balas dendam Malaysia terhadap tuduhan Indonesia tentang klaim budaya.
Entahlah, yang jelas, Ng Yen Yen (foto bawah), menteri pariwisata Malaysia berniat untuk mendaftarkan beberapa makanan yang diakui merupakan makanan khas Malaysia, agar disahkan menjadi kekayaan budaya Malaysia layaknya batik yang telah sah menjadi warisan kekayaan dunia asli Indonesia yang disakhan oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu.




Indonesia sepertinya harus bekerja keras lagi untuk adu klaim dengan negeri Jiran tersebut. pasalnya beberapa jenis makanan yang mereka klaim (sesuai daftar di bawah ini) sebenarnya justru merupakan makanan yang sudah menjadi santapan warisan Indonesia. Sekarang benar-benar patut dipertanyakan, sebenarnya bagaimana kegetolan pemerintah menjaga warisan budaya bangsa secara prosedural? Jangan sampai kita hanya bisa berseru "ganyang Malaysia!" sementara tidak ada bukti jelas mengenai klaim kita, istilahnya tong kosong nyaring bunyinya.
Selain itu, memang kita sebagai warga Indonesia mesti berjuang dan setidaknya tidak cuek bebek dengan klaim Malaysia tersebut. sehingga bagi mereka yang memang mengerti asal usul masakan yang diyakini "uasli Indonesia" semestinya bergerak cepat. Jangan sampai kalah perang cuy!






Ini Daftarnya 99 jenis makanan yang diklaim asli Malaysia  yang diperbaharui/update pada tanggal 17 Juni 2009:

  1. Nasi lemak
  2. Nasi ayam
  3. Nasi Kunyit (pulut kuning)
  4. Nasi Tumpang
  5. Nasi Kerabu
  6. Nasi Dagang
  7. Nasi Himpit
  8. Nasi Goreng Kampung
  9. Nasi Ulam
  10. Ketupat
  11. Lemang
  12. Pulut Kukus Periuk Kera
  13. Mee Mamak
  14. Laksa
  15. Mee Kari
  16. Char Kuay Teow Pulau Pinang
  17. Laksa Johor
  18. Mee Siam
  19. Bubur Pedas Sarawak
  20. Bubur As-Sura
  21. Bubur Sum Sum
  22. Bubur Kacang Hijau
  23. Sagu Gula Melaka
  24. Kuih Bingka Ubi
  25. Rendang
  26. Serunding
  27. Ayam Percik
  28. Manoh Pansoh
  29. Masak Ayam Pedas
  30. Gulai Tempoyak Ikan Patin
  31. Ikan Bakar
  32. Ikan Panggang Tanah Liat
  33. Gulai Lemak Umbut
  34. Gulai Lemak Cili Padi
  35. Gulai Asam Rom
  36. Kari Kepala Ikan
  37. Kurma Daging/Ayam
  38. Pajeri
  39. Masak Ikan dan Pisang Dalam Buluh
  40. Yong Tau Foo
  41. Daging Dendeng
  42. Ayam Panggang
  43. Botok-Botok Ikan
  44. Sambal Tumis
  45. Chili Crab
  46. Tek Tarik
  47. Cendol
  48. Air Batu Campur
  49. Air Kelapa
  50. Air Selasih
  51. Hinava/Umai
  52. Pekasam
  53. Tempoyak
  54. Otak-otak
  55. Sambal Belacan
  56. Cencaluk
  57. Sambal Gesek Ikan Bilis
  58. Sate/Satay
  59. Yee Sang
  60. Sata
  61. Telur Pindang
  62. Kerabu Mangga Muda
  63. Acar
  64. Kuih Koci
  65. Akok
  66. Kuih Seri Muka
  67. Kuih Cara
  68. Kuing Bingka
  69. Kuih Bakul
  70. Kuih Bulan
  71. Kuih Cincin
  72. Kuih Bakar
  73. Kuih Sepit
  74. Apam Balik
  75. Pisang Goreng
  76. Keropok
  77. Opok-opok
  78. Karipap
  79. Buah Melaka atau Ondeh-ondeh
  80. Lempeng
  81. bahulu
  82. Dodol
  83. Lempuk Durian
  84. Wajik
  85. Seri Kaya
  86. Halwa
  87. Agar-agar
  88. Pulut Panggang
  89. Tapai
  90. Masalodeh
  91. Putu Mayam
  92. Maruku
  93. Roti Jala
  94. Roti Canai
  95. Tosai
  96. Penderam
  97. Kuih Lopis
  98. Laddu
  99. Ubi Kayu 

Tuesday, March 10, 2009

aneh...

hampir selama enam bulan hidup di Malang aku nggak pernah keluapaan rasanya satu kata itu

soalnya hampir bisa dikatakan sangat sering aku merasakannya

terutama kalau masalah budaya

emangnya budaya Kalimantan sama Jawa beda banget ya?

iya sih, bisa dibilang begitu...

Pertama soal logat...aku jelas nggak medok Jawa, jadi kadang masih suka lucu kalau ada temenku presentasi di kesal dan medoknya kelihatan banget. Mereka juga ngakunya berpikiran sama. Bahasaku yang lebih lugas bahkan nadanya agak tegas membuat mereka ngerasa cukup aneh dengan itu. duh, gimana kalau kita di luar negeri ya yang beda bahasa luar dalam???

wong beda pulau aja rasanya seperti ketemu bahasa baru. Kalau dipikir-pikir itulah bukti kekayaan Indonesia! tsah...

kedua, selain logat aku juga sering mengucapkan kata-kata yang bagi teman-temanku orang luar Kalimantan lucu. Misalnya sering menyebut "kah?" diakhir pertanyaan. Kalau anak Malang biasanya nyebutnya "tah?" atau "...a?" Terus suka nyebut "..na..." misalnya bilang "yang itu!" aku bilangnya, "itu na..." Begitulah. Selain itu aku juga sering diprotes temanku anak Jakarta kalau aku menyebut "kami" nggak ngerti juga kenapa, tapi menurut dia sih yang benar nyebutnya "kita". Misalnya dalam kata "Kami masuk kelas B" menurut dia harusnya disebut "kita masuk kelas B" alah, nggak ngerti. Tapi lucunya, aku juga mulai ketularan logat anak sini (Malang dan sekitarnya) suka ngomong "rek!"

itu sih soal bahasa...

masih banyak keadaan unik yang patut untuk diceritakan tapi yah..begitulah

ntar..ntar lebih seru sepertinya!